Army Festival Day

Berkelana Ke Kraton Gunung Kawi, Tempat Pertapaan Para Raja Yang Mistis Dan Unik

Kraton Gunung Kawi adalah salah satu tempat wisata spiritual di wilayah Kabupaten/Kota Malang yang masih jarang dikunjungi oleh banyak orang.

Letak kraton Gunung Kawi ini sebenarnya tidak berada jauh dari Kepanjen yang saat ini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang.

Meskipun jaraknya hanya 7 Km atau sekitar 20-30 menit dari pesarean gunung kawi tempat makam Mbah Jugo dan Mbah Sujo yang sering dikunjungi oleh peziarah untuk ngalap berkah dan terkenal dengan tempat mencari pesugihan, namun keberadaan dan kekeramatan Kraton Gunung Kawi yang usianya jauh lebih tua dari kedua makam tersebut masih sangat jarang dikunjungi oleh peziarah umum.

Mungkin karena letaknya yang sedikit masuk ke dalam hutan pinus gunung Kawi dan perjalanannya yang harus ditempuh sedikit curam dari pesarean Gunung Kawi, banyak peziarah Gunung Kawi yang enggan menuju ke Kraton Gunung Kawi meskipun mungkin mereka ingin melihatnya.

Sejarah Kraton Gunung Kawi

Seperti yang dilansir oleh Nusadaily.com, sejarah kraton atau keraton Gunung Kawi dimulai pada jaman Mpu Sindok.
Mpu Sindok yang bernama asli Kusuma Wardhani sendiri adalah raja Mataram Kuno terakhir yang hijrah ke Jawa Timur karena kerajaan Mataram Kuno yang hancur diterpa meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah.

Menurut sejarah, Mpu Sindok memilih hijrah ke Jawa Timur karena ingin mengindari gempuran musuh, menghindari perang saudara dan mencari kehidupan baru untuk rakyatnya setelah terkena bencana letusan gunung Merapi.

Mpu Sindok sendiri memilih Kraton Gunung Kawi sebagai tempat baru di Jawa Timur setelah mendapatkan wangsit atau ilhan untuk pindah ke Gunung Kawi.

Di Jawa Timur, Mpu Sindok kemudian menurunkan raja-raja besar di Jawa Timur seperti salah satunya adalah Airlangga atau Prabu Kameswara 1 (dari Kediri). Dia adalah generasi kedua setelah Mpu Sindok yang sampai saat ini dikenal sebagai penguasa Kraton Gunung Kawi. Prabu Kameswara melakukan lengser keprabon mandek pandita (turun tahta dan menjadi pertapa).

Seiring berjalannya waktu, Kraton Gunung Kawi kemudian menjadi tempat untuk bertapa para pembesar kerajaan dan negara. Konon kabarnya raja Singhasari – Ken Arok, dan Patih Majapahit – Gajah Mada, juga pernah bertapa di tempat yang dingin ini.

Selain itu, Bung Karno dan Supriadi kabarnya juga pernah mengunjungi Kraton Gunung Kawi.

Sejarah kelam Kraton Gunung Kawi
Pada tahun 1965-1974, Kraton Gunung Kawi pernah ditutup total oleh pemerintah Indonesia karena disinyalir menjadi tempat persembunyian PKI.

Pada saat itu bangunan yang ada di Kraton Gunung Kawi ini rusak parah karena tidak adanya perawatan.

Setelah resmi dibuka kembali oleh pemerintah, Kraton Gunung Kawi kemudian mulai berdiri dan dirawat lagi meskipun pada saat itu bentuk bangunannya masih sangat sederhana.

Pada tahun 1979-1980, bangunan Kraton Gunung Kawi mulai dipugar dan pada tahun 1993 mulai dibangun.
Namun pada tahun 2002, Kraton Gunung Kawi mengalami kebakaran hebat. Beberapa bangunan Gunung Kawi rusak parah dan salah satu pohon kuno yang berukuran besar di lokasi kraton juga rusak.

Keunikan dan Kemistisan Kraton Gunung Kawi

Kental Aroma Mistis

Sebagai salah satu tempat wisata spiritual yang diwingitkan, maka tak heran jika cerita gunung kawi mengenai kraton Gunung Kawi ini juga beraneka ragam.

Bahkan sempat tersiar cerita gunung kawi yang mengatakan jika penguasa sesungguhnya gunung kawi bukanlah eyang Jugo dan eyang Sujo yang makamnya berada di pesarean gunung kawi, melainkan yang bersemayam di Kraton Gunung Kawilah pemilik sesungguhnya gunung kawi.

Bahkan beberapa tokok supranatural meyakini jika Mbah Jugo dan Mbah Sujo sebenarnya tidak pernah berada di pesarean gunung kawi, tetapi beliau berdua lebih sering berada di kraton Gunung Kawi bersama penguasa Gunung Kawi.
wallahu a’lam bishawab.

Keunikan Kraton Gunung Kawi
Meskipun tokoh-tokoh yang berada di Kraton Gunung Kawi dan pesarean Gunung Kawi adalah orang-orang Jawa dan penduduk sekitarnyapun mayoritas orang Jawa, namun jangan heran jika kalian berkunjung ke Pesarean Gunung Kawi dan Kraton Gunung Kawi akan menemukan corak bangunan yang berbeda.

Ya, di Kraton Gunung Kawi dan Pesarean Gunung Kawi kalian akan menemukan bentuk bangunan yang kental dengan nuansa Tionghoa. Kalau kalian ngga punya uang untuk pergi ke China, kalian bisa pergi ke Gunung Kawi, dijamin nuansanya tidak berbeda jauh.

Di Kraton Gunung Kawi sendiri terdapat tiga bangunan utama yang berdiri tegak.
Di pintu masuk utama ada bangunan berupa seperti cungkup makam.
Namun ketika kalian masuk ke dalam bangunan ini, kalian tidak akan menemukan makam, melainkan hanya ruang kosong yang dulu sebelum terjadinya kebakaran di dalam bangunan ini ada pohon besar. Nah, bangunan utama ini seperti diselimuti oleh pohon besar tersebut.

Ruangan dalam bangunan pertama ini biasanya digunakan oleh para peziarah untuk bertapa atau mengheningkan cipta agar dapat menyatukan diri dalam rasa dan semesta.

Di samping kanan bangunan utama tersebut kemudian ada bangunan lain yang digunakan sebagai kuil oleh masyarakat Tionghoa.
Di pelataran bangunan kedua ini terdapat patung Dewa Perang yang berukuran besar.

Bangunan ketiga atau bangunan yang terakhir letaknya ada di atas kedua bangunan pertama dan kedua.

Bangunan ketiga ini merupakan kuil untuk Dewi Kwan Im.
Untuk menuju kuil Dewi Kwan Im di Kraton Gunung Kawi ini, kalian harus menaiki sejumlah anak tangga yang tingginya cukup membuat nafas terengah-engah.

Namun tenang saja, tingginya tidak setinggi jika kalian ziarah ke makam raja-raja Mataram di Imogiri maupun naik ke puncak Gunung Bromo yang jumlah tangganya mencapai ratusan itu.

Video Suasana Kraton Gunung Kawi